Sudah 3 bulan lelaki tua beruban itu “tinggal” di pojok stasiun Juanda. Tubuhnya kecil, perutnya sempit, matanya cekung seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Berbeda dengan tunawisma lain yang “menetap” di stasiun, ia tak pernah sekalipun kudengar bicara. Hanya matanya yang seolah mengatakan sesuatu, “tuan, nyonya, tidak bisakah kalian sopan sedikit jika lewat di depanku?”
Entah oleh siapa, pagi ini ia ditemukan mati. Ketika saya berangkat ke kantor, kulihat kerumunan tukang ojek dan dua orang polisi yang sedang bertanya ke saksi. Di sampingnya kulihat sekotak kardus berisi lembaran ribuan, sempat pula sekelebat kulihat 20 dan 50 ribuan. Saya hanya menerka, uang itu dari siapa dan kemudian untuk apa. Selama 3 bulan lebih, belum sekalipun kulihat ia menadahkan tangan, mencoba mengharapkan sedekah seperti tunawisma lainnya. Mungkin saja untuk ongkos pak polisi yang mengeluarkan keringat karena akan mengangkat jasadnya, atau mungkin saja untuk tukang gali kubur nantinya, bisa juga itu uang tabungan si almarhum dan nantinya akan dikubur bersama.
Kemarin, sebelum mati, kulihat dua bungkus roti kempis di samping lelaki tua beruban itu. Sudah dua hari kulihat roti itu tidak disentuh, bergerak dari tempatnya pun tidak. Lelaki tua itu hanya tidur melingkar, menghadap ke jalanan. Dan itu jadi pertanda pertemuan terakhir saya dengannya. Semoga kau diberikan tempat yang nikmat disana, Lelaki Tua!
Djuanda, 07122011







Mereka yang Mampir
(3 weeks ago)
(7 weeks ago)
(10 weeks ago)
(11 weeks ago)
(11 weeks ago)
(11 weeks ago)
(11 weeks ago)
(13 weeks ago)
(15 weeks ago)
(16 weeks ago)