Lelaki Tua Beruban itu Akhirnya Mati

Sudah 3 bulan lelaki tua beruban itu “tinggal” di pojok stasiun Juanda. Tubuhnya kecil, perutnya sempit, matanya cekung seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Berbeda dengan tunawisma lain yang “menetap” di stasiun, ia tak pernah sekalipun kudengar bicara. Hanya matanya yang seolah mengatakan sesuatu, “tuan, nyonya, tidak bisakah kalian sopan sedikit jika lewat di depanku?”

Entah oleh siapa, pagi ini ia ditemukan mati. Ketika saya berangkat ke kantor, kulihat kerumunan tukang ojek dan dua orang polisi yang sedang bertanya ke saksi. Di sampingnya kulihat sekotak kardus berisi lembaran ribuan, sempat pula sekelebat kulihat 20 dan 50 ribuan. Saya hanya menerka, uang itu dari siapa dan kemudian untuk apa. Selama 3 bulan lebih, belum sekalipun kulihat ia menadahkan tangan, mencoba mengharapkan sedekah seperti tunawisma lainnya. Mungkin saja untuk ongkos pak polisi yang mengeluarkan keringat karena akan mengangkat jasadnya, atau mungkin saja untuk tukang gali kubur nantinya, bisa juga itu uang tabungan si almarhum dan nantinya akan dikubur bersama.

Kemarin, sebelum mati, kulihat dua bungkus roti kempis di samping lelaki tua beruban itu. Sudah dua hari kulihat roti itu tidak disentuh, bergerak dari tempatnya pun tidak. Lelaki tua itu hanya tidur melingkar, menghadap ke jalanan. Dan itu jadi pertanda pertemuan terakhir saya dengannya. Semoga kau diberikan tempat yang nikmat disana, Lelaki Tua!

Djuanda, 07122011

Ngetweet = YM-an #nggombal

Awalnya memang menyenangkan ketika satu, dua follower nyantel ke akun Twitter saya. Tapi perlahan trend folllower yang nyantel tadi dan saya kebetulan juga meng-folbeknya, karena dia teman saya, lama kelamaan kurang enak dipantengin TL-nya. Bukan karena saya kurang cocok dalam perbedaan karakter, tapi saya kurang faham dengan traffic TL teman saya tadi. Sekilas, antara TL yang ia keluarkan melebihi kicauan yang dikeluarkan seorang artis sekaliber Sherina. Saya amati lagi, trend kicauannya hampir mirip orang chatting menggunakan fasilitas YM.

Aktivitas seseorang yang terekam lengkap melalui media sosial, terkadang begitu detil dan lengkap. Sampai pengguna sendiri tidak menyadari kalau mereka sedang mencatatkan tinta sejarah di beragam media sosial. Bisa jadi apa yang mereka tulis melebihi rumus 5W+1H yang selama ini jadi pakem penulisan “normal”.

Di satu sisi, berkicau di ranah publik mungkin berguna bagi si pemilik akun. Tapi di sisi lain, jika secara tidak sadar sampai bocor ke publik, informasi yang terlalu lengkap tentang seseorang bukanlah hal yang lazim untuk diumbar ke khalayak umum. Ada sesuatu hal yang sifatnya personal, dan kemungkinan orang lain tidak memiliki hak untuk mengetahuinya. Jadi mari mulai sekarang dipikirkan lagi informasi tentang apa saja yang akan anda keluarkan dan menjadi konsumsi publik.

Dan, setelah mempertimbangkan sesaat, saya memutuskan unfollow teman saya tersebut. Saya yakin, follower itu akan bertambah seiring kualitas kicauan yang kita keluarkan. Jadi tidak usaha resah ketika follower di akun twitter anda baru segelintir orang.

Djuanda36, 15112011

5cm #nggombal

Sore itu saya disodori satu buku oleh teman saya, Ain namanya. Dari judulnya, saya mulai menebak-nebak, “buku apa ini 5cm, ihh, jorok. Ain, punya loe panjangnya cuma segitu, 5cm doank?”

Empunya cuma ketawa, “loe baca dulu deh, ntar juga tahu, paling ketagihan,” begitu kata Ain “Singo”.

Sampai akhirnya saya menemukan segerombol begundal tengil di Kebun Raya Bogor yang menamakan diri Ranger Sahabat 5cm. Mereka ini sederhana, kebangetan kocaknya, terutama si Ida. Belum lagi Sandra, lelaki paling konyol dengan sentilan-sentilan renyahnya. Ada juga Rian, yang suaranya mirip anak SMA, cempreng kemana-kemana. “Gerombolan Si Berat yang sesungguhnya ini,” batin saya waktu itu.

Perkenalan awal yang membuat saya jatuh hati ini akhirnya memaksa saya memutar otak untuk berburu bukunya Donny Dhirgantoro ke Gramedia Pasar Baru. Tapi apa daya, ternyata stock saat itu habis, tidak tersisa, tandas. Lemas.

Akhirnya saya memutuskan pulang, mengurungkan niat membeli bukunya Mas Donny. Saya malah membeli bukunya Coelho, Brida dan Eleven Minutes.

Paginya, saya memutar otak mencari pinjeman buku ini di kantor, maklum duit di kantong juga lagi mepet. Saya tanya satu persatu, tidak ada yang punya. Tapi sepertinya saat itu saya sedang berjodoh, teman saya tiba-tiba menawarkan diri, “loe dari tadi ngapain, mo pinjem bukunya Mas Donny? gua ada noh di rumah, tapi besok ya!” pucuk dicinta buku-pun tiba. Jingkrak-jingkrak bahagia.

Sekarang sedang proses menyelesaikan membaca. Terimakasih atas welcoming party-nya di Bogor dan Monas kemarin #hahaha, ngarepdotcom

Djuanda, 19092011